Cerita Aku, Kamu, Dia dan Mereka

To accomplish great things, we must not only act, but also dream; not only plan, but also believe.

Jumat, 27 April 2012

Happy Birthday Rahma



hari ini ulang tahun Rahma, jadi ke ingat beberapa tahun sebelumnya. saat pertama kali kami merayakan ulang tahunnya. aku, Icha, Hilda dan Ifne. bela-belain begadang dan tepat jam 12 malam berjalan ke rumahnya Rahma. persiapan ulang tahun dia udah kita lakuin beberapa hari bahkan 1 minggu sebelumnya, hingga membangun kerja sama dengan keluarganya dia, Mama, dan juga adik laki-lakinya.
Alhamdulillah semua berjalan sukses, dan menjadi penguat persahabatan kami saat itu.
merayakan ulang tahun bersama menjadi kebiasaan bagi kami setelahnya. bermacam-macam bentuk kejutan, meskipun tidak semua berhasil dan sesuai rencana, namun tetap indah pada akhirnya.

Ingin sekali merayakan ulang tahun bersama mereka lagi.
kapan-kapan mau nulis tentang kepribadian mereka :)




LOVE YOU GUYS :)

Coretan hari ini (lagi)

Sebagian orang mungkin beranggapan bahwa menulis Diary itu cengeng, dan selalu di 


identikkan dengan perempuan manja, feminin. tapi bagiku, dengan menulis diary, kemudian 


beberapa tahun setelahnya kembali membaca tulisan ku itu, banyak hal yang bisa aku 


dapatkan. hal itu membantu ku kembali tersadar apa yang pernah menjadi mimpi ku. aku 


belajar dari pengalaman-pengalamanku. aku semakin kenal dengan diri ku. diary itu 


menggunakan bahasa yang spontan. sederhana tapi maknanya dalam, karena ditulis dengan 


perasaan.




ketika sedih, senang, marah, haru, semua itu tergambar dalam tulisan itu. ketika 


membacanya aku seperti menyelam kepada masa lalu. bukan untuk aku tangisi, tapi untuk aku 


pahami dan mengerti, semoga kedepannya menjadi lebih baik.. ♥




 #curhatan sore hari



Coretan Sore ini

Terkadang kaget dengan apa yang pernah diri sendiri fikirkan. kadang hal tersebut terlalu jenius. bahkan terkadang suatu hal itu terkesan sepele, dan karenanya tidak ada kepercayaan diri untuk mengungkapkan pemikiran tersebut. 


Namun, ketika ada orang lain yang menyampaikan hal yang sama, tiba-tiba kamu merasa hal tersebut memang luar biasa. hal yang kemudian kamu rasakan adalah penyesalan. 
sedih bukan. beranilah berbicara, beranilah berpendapat, memang bukan asal berpendapat, tapi ketika itu adalah hal yang solutif, kenapa tidak?

#renungan sebelum tidur

Sabtu, 21 April 2012

UNTITLE

Maaf, blog ini jadi nggak bertema.. bukan karena apa-apa, karena sekarang yang gue suka cuma nge-post apa-apa yang menurut gue bisa dikonsumsi khalayak ramai.
nggak suka?
abaikan

Pemikir Dinamis


Tipe Pemikir Dinamis adalah orang-orang yang penuh percaya diri dan mandiri. Mereka memancarkan antusiasme dan energi. Tipe Pemikir Dinamis mengejar tujuan-tujuan mereka dengan aktif dan penuh semangat. Tak ada yang lebih mereka cintai dibanding tantangan-tantangan baru. Tipe ini dilahirkan sebagai pemimpin, kompeten, penuh semangat, dan bertanggung jawab. Mereka memiliki mata yang tajam dalam melihat kesalahan dan dapat mengritik tanpa kenal ampun jika melihat kesuksesan suatu proyek terancam bahaya. Mereka sama sekali tidak peduli apakah mereka mengasingkan orang lain dalam prosesnya. Tapi mereka selalu menerima argumen-argumen objektif; mereka sangat menyukai diskusi, sangat berbakat retorika, dan pandai meyakinkan serta menyemangati orang lain.

Karena sangat mudah bergaul, tipe Pemikir Dinamis suka jika dikelilingi banyak teman, lebih disukai jenis yang dengannya mereka dapat berbagi minat dan berdiskusi mengenai beragam jenis topik. Mereka sangat blak-blakan tapi tidak pernah dengan maksud jahat. Kalau Anda tahan dihujani kata-kata yang diucapkan tanpa tedeng aling-aling, Anda bisa mendapatkan teman yang setia dan penasehat yang teguh dalam diri mereka. Segala sesuatu yang baru dan tidak dikenal merangsang tipe Pemikir Dinamis dan membangkitkan rasa ingin tahu mereka. Namun demikian, peraturan, rutinitas, dan hal-hal tradisional membangkitkan penolakan mereka. Jika sesuatu tidak berjalan sebagaimana mereka inginkan, mereka dapat bereaksi agak bebal dan keras kepala.

Tipe Pemikir Dinamis berharap banyak pada diri mereka sendiri dan orang lain. Siapa pun yang tidak cocok dengan rencana mereka tidak akan ditolerir. Kadang-kadang mereka tampak agak kejam karena keterusterangan mereka. Pasangan dan keluarga juga merasa sulit memuaskan tipe Pemikir Dinamis. Mereka tahu persis apa yang mereka inginkan dan berkompromi tak pernah terpikir oleh mereka. Barangsiapa memiliki tipe Pemikir Dinamis sebagai pasangan harus memiliki kepribadian kuat dan memiliki kemandirian tinggi serta rasa percaya diri yang cukup untuk memberi sedikit perlawanan kepada tipe pendominasi ini. Biasanya, bagi tipe Pemikir Dinamis, hubungan dengan pasangan hanya berada di urutan kedua setelah pekerjaan mereka. Namun mereka suka memiliki pendamping yang setara dengan mereka secara intelektual, yang dengannya mereka dapat mengejar tujuan-tujuan bersama dan mengadakan diskusi-diskusi menarik sepanjang malam; lebih disukai diskusi-diskusi faktual – hal-hal sentimental dan asmara bukan kegemaran mereka.

Pohon Tua : from: Latest Article


Terdengar suara dedaunan bergesekan oleh angin. Mentari pun tak enggan memberikan cahayanya yang hangat. Suasana di pegunungan begitu damai. Sudah lebih dari 100 tahun kurasakan suasana seperti itu.Aku adalah pohon tua yang berdiri di antara suasana seperti itu setiap harinya. Setiap pagi aku menghirup gas karbondioksida dan menyerap air untuk bahan makanan yang aku masak. Dengan bantuan matahari, aku memasak dan mengahasilkan gas oksigen untuk manusia dan hewan.Aku adalah pohon terbesar di pegunungan. Seorang gadis kecil dan teman-temannya memanggilku Mutiara, Si Pohon Tua. Daunku begitu lebat dan berkumpul sehingga membentuk bulat. Siang atau pun malam , daunku memantulkan sinar mentari atau pun bulan yang memebuatku seperti mutiara besar di pegunungan.
Setiap pagi sampai sore, gadis kecil dan teman-temannya bermain di bawah daun-daunku yang teduh. Mereka berteduh dan bermain dengan sangat gembira. Namun lama-kelamaan mereka tumbuh menjadi dewasa. Mereka tidak lagi bermain di bawah dedaunku.
Sudah sepuluh tahun berlalu semenjak gadis kecil dan teman-temannya meninggalkanku. Pohon-pohon lain di sekitarku pun satu per satu ditebang. Aku semakin kesepian. Tak ada yang merawatku. Buahku pun membusuk di rantingku lalu jatuh ke tanah. Daun-daunku juga berguguran. Tanah di sekitarku kotor oleh daun dan buah yang membusuk. Burung-burung juga tak berkicau dan membuat sarangnya di rantingku lagi. Yang tertinggal hanyalah sarangnya yang tak berpenghuni. Yang dapat kulakukan pun hanya menunggu sesuatu yang ditentukan oleh Tuhan.
Suatu hari ada seorang gadis cantik jelita menemuiku. Ia mengelusku dan menatapku dengan iba. Ia membersihkan buah dan dedaunan yang busuk di sekitarku. Kemudian ia beristirahat di bawah daun-daunku yang rimbun. Dia menulis sesuatu di sebuah buku sambil bersenandung.                Sekarang aku ingat. Gadis itu adalah gadis kecil yang sama 10 tahun yang lalu. Andai aku bisa bicara dengannya, aku akan berterimakasih padanya. Namun aku juga sudah bahagia dengan adanya gadis kecil di sampingku.
Setiap pagi ia menemuiku. Membersihkan halaman di sekitarku dan memberiku cukup air. Namun suatu hari saat gadis kecil menemuiku, ia mengelusku dan menangis di bawah daun-daunku. Aku bingung, mengapa ia menangis? Aku ingin menghiburmu. Duduklah di bawah daun-daunku yang teduh. Bersenandunglah untukku. Aku akan menjagamu, gadis kecil.
Namun di hari itu ia tidak bermain di bawah daun-daunku. Ia pergi. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Andai aku punya kaki, aku akan mengejarmu.
Keesokan harinya, banyak orang yang menghampiriku. Apakah mereka ingin bermain denganku? Hatiku sangat bahagia. Akan tetapi, mereka malah menebangku. Aku sedih, mungkin ini sudah saatnya aku ditebang. Aku memang pohon tua yang tak berguna.                Saat ditebang, aku melihat gadis kecil menatapku dengan rasa iba. Maafkan aku, gadis kecil. Aku tak dapat bersamamu lagi. Padahal aku ingin selalu di dekatmu.
Seluruh daunku dipangkas dan dibakar. Ranting-rantingku dijemur dan dijadikan kayu bakar. Buah-buahku yang masih bagus dijual. Batangku dibuat menjadi kursi goyang. Aku hidup di kursi goyang tersebut. Aku diletakan di dalam sebuah rumah. Setiap hari aku diduduki oleh seorang gadis cantik. Tidak lain gadis itu dalah gadis kecil.Aku senang. Ia masih bersenandung untukku. Terimakasih, Tuhan! Sekarang aku dapat memberikan kenyamanan lagi untuk gadis kecil. Bahkan sampai tua pun gadis kecil masih bersamaku.

Jumat, 20 April 2012

Gara-gara Iseng

            Emang ya, hidup itu emang punya alur, dan nggak mungkin semuanya berjalan seperti yang kita harapkan gitu aja. Kejadian belakangan ini bener-bener bikin gue selalu pengen liburan, dan liburan. Hal ini bukan tanpa alasan, gue udah pernah menganalisa diri gue, dan sadar bahwasanya teman-teman disekitar gue akan memberikan pengaruh pada kejenuhan dan mood gue.

            Kemaren gue sama Jely emang niatnya bercanda sama Sasha dan bener-bener nggak nyangka kalau dampak yang kami timbulkan akan seperti itu. Rabu, 18 April 2012, gue sama Jely jalan ke kamar mereka (Gya, Shasa). Awalnya sih karena si Jely pengen liat kamar baru anak-anak itu. Ya udah, gue sama Jely pun jalan ke kamar mereka, berdiri di depan pintunya, bahkan gya nggak sadar kalau kita berdua ada disana. Tabjub melihat hal itu, iseng, kami mencoba ngambil kertas yang ada di meja dekat pintu saat itu, dan masih, Gya nggak sadar.

            Nggak berapa lama, shasa datang barengan sama Fiska, kami pun menceritakan kejadian barusan. Masih, gya gak sadar, niat iseng gue kembali muncul, gue comot tuh, tas sasa yang ada dekat meja itu, berdua sama Jely lari ke kamar kita sambil tertawa geli. Satu hal yang gue sama Jely yakin, kalau shasa ataupun fiska sadar akan hal itu. Malam itu, gue sama Jely nungguin sasa bakalan jemput tasnya ke kamar kita, dan ting tong.. nggak ada. Oke, mungkin shasa capek dan bakal ngambil tas nya besok pagi, dan gue malam itu tanpa beban apalagi merasa bersalah, tidur dengan nyenyak setelah sebelumnya begadang dulu sama Jely (bahkan gue baru tidur setelah sholat subuh).

             Besok paginya, sekitar jam 7 lewat (gue lupa), gue denger ada ketukan dipintu, gue yakin itu sasa. Benar saja, itu memang sasa, tapi ada yang aneh, matanya sembab, dan dengan suara menahan tangis dia bilang “Sher, tas urang hilang” (Sher, tas ku hilang)

             OMG! Gue nggak nyangka kalau dia bakalan nangis dan malam itu bener-bener nggak sadar kalau tasnya dia gue ambil. Tanpa ekspresi dan karena baru bangun tidur juga, gue masuk kamar, mengambil tasnya yang dari semalam tidur cantik di tempat tidur gue, terus menyodorkannya ke tangan sasa. Dia nangis, lega sekaligus kesal.

             Mengabaikan itu semua, karena masih antara sadar dan nggak sadar, gue lansung masuk kamar lagi, dan TIDUR! Satu kebodohan di pagi itu, karena nggak ada kata maaf dan muka khawatir yang gue tunjukin ke shasa.. parahnya, bahkan gue menutup pintu kamar kembali saat sasa masih ada di depan kamar gue sambil memeluk tasnya..

             Jam 9 lewat gue kembali bangun, karena emang hari itu nggak ada kuliah (gue bahkan lupa ada seminar yg udah gue tunggu-tunggu untuk gue datangi! Sial!) gue menganalisa kejadian pagi itu, dan kembali mengingat ekspresi pucat sasha.. aduuh, jadi ngerasa bersalah, sekaligus ngerasa ‘nggak ngerti’, kenapa sampai sasha sama gya nggak punya clue kalau yang ngambil tas semalam itu gue sama Jely. Gue cerita ke Jely (dia juga baru bangun jam 9 lewat itu, hehe Ujung-ujungnya perasaan bersalah sama sekali hilang, karena emang gue nggak bermaksud bikin sasha kesal apalagi nangis kayak gitu..

           Hari itu, kamis, 19 April 2012, ARC penelitian dan SG kelompok 1 rencananya datang ke acara Salam Research day, Dan nggak ada satupun yang datang, kecuali gue. Kesal emang, trus SMS sasha, dan dia bilang ada rapat salam, dan tidak ada kata-kata maaf dalam sms dia itu, Ok, gue menyimpulkan kalau dia masih kesal.. haduh, ternyata hal ini masih berlanjut besok harinya, tepanya hari ini, (Jum’at 20 April 2012), dia jadi nggak banyak ngomong, dan keliatan banget masih badmood.

          Gue berusaha untuk nggak kepancing badmood juga, berusaha.. berusaha….berusaha.. dan akhirnya gue harus nulis untuk berusaha nggak badmood juga.

           Emang sih, dampak dari becandaan gue, malah bikin dia panik, sedih, kesal, bahkan sampai udah ke ATM ngambil duit buat beli tas baru, udah nelpon mamanya juga.. tapi sumpah, gue nggak bermaksud kayak gitu, kirain gue dia malam itu tau gue iseng ngambil, dan pengen bikin dia capek ke kamar gue untuk jemput tasnya, tanpa ada pemikiran kalau tasnya hilang dicuri sama orang.. semoga hal ini cepat selesai, dan nantinya jadi kisah indah yang bisa kami rangkai dalam masa-masa kuliah kami sebagai anak rantau. Love u AB’ers.. 





Powered By Blogger